Burnout

Belakangan saya sering lihat kata burnout dipakai, terutama di platform media sosial Twitter. Informasi yang tersebar di Twitter menurut saya sangat cepat. Bahkan terlalu cepat sehingga berita yang trending hari ini bisa jadi esok hari sudah berganti. Nah, burnout sempat menjadi trending topic beberapa waktu yang lalu. Tidak sedikit cuitan yang membahas burnout. Respon dari warga Twitter bermacam-macam. Banyak netizen yang mendadak menjadi β€œahli” soal burnout ini. Sah-sah saja selama opini yang disampaikan tidak merugikan orang lain. Toh kita malah mendapat ilmu dan ini menjadi ruang diskusi publik. Awalnya saya pun kurang paham dengan istilah burnout. Apakah sama dengan stres? Apakah burnout itu stres yang berkepanjangan? Apa penyebab burnout? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya terus terlontar di benak saya. Rasa penasaran ini lah yang mendorong lahirnya tulisan ini.

Setiap orang pasti setidaknya pernah menghadapi situasi yang genting. Pekerjaan dikejar deadline, tugas rumah yang tidak ada habisnya, dan lain sebagainya sehingga membuat kepala rasanya mau pecah. Itu bukan burnout, melainkan stres. Inilah perbedaan yang paling mencolok antara stres dan burnout. Stres bisa hilang saat tugas yang kita hadapi akhirnya tuntas, tapi tidak untuk burnout. Perasaan tidak semangat, selalu lelah setiap saat, merasa hal yang dikerjakan tidak berguna, itulah indikasi dari burnout. Stres membuat kita cenderung lebih emosional dalam menghadapi sesuatu, sedangkan burnout kebalikannya.

Kita biasanya tidak familiar menyebut hal-hal tersebut sebagai indikasi burnout. Sederhananya kita menyebut dengan lelah, tidak semangat, dan seterusnya. Memang lelah bukan berarti seratus persen indikasi burnout. Tapi gejala burnout salah satunya ditandai dengan lelah, lebih khususnya lelah psikis. Lelah menghadapi rutinitas sehari-hari yang monoton bisa jadi gejala burnout. Tanpa disadari hal ini sangat erat dengan kehidupan di kota-kota besar yang mayoritas penduduknya berprofesi β€œkantoran”. Sudah tidak asing kita mendengar kalimat β€œI hate Monday”. Mungkin orang-orang yang selalu menggaungkan kalimat itu sedang mengalami burnout, dan secara tidak langsung kalimat tersebut di-amini oleh kebanyakan orang.

Dampak dari burnout kurang lebih akan berpengaruh terhadap kegiatan sehari-hari. Tapi mungkin dampak nya tidak signifikan, dan saya pun belum pernah melihat secara langsung burnout berdampak serius pada kehidupan seseorang. Yang terpenting adalah kita tahu kapan burnout ini terjadi dan bisa keluar dari kondisi tersebut.