Banting Setir 🚀 (part 1)
Di zaman yang katanya 4.0 ini, kurang afdol rasanya kalau belum ngerasain profesi yang “millenial” banget, yaitu programmer a.k.a tukang ketik with style. Siapa sih yang nggak tertarik dengan pekerjaan yang KATANYA cuma duduk di depan laptop seharian, hmm menarik.
Setiap peristiwa pasti ada sebab dan akibat, azeeeeek. Mari kita simak curcol cerita seorang pemuda yang sedang mencari jadi dirinya di dunia yang fana ini.
Pada suatu hari, di kota metropolitan, seorang pemuda tertarik dengan topik per-karir-an duniawi. Untuk memuaskan hasrat tentang per-karir-an, pemuda itu membaca buku Rene Suhardono yang judulnya Your Job is Not Your Career. Hal yang memorable dari buku ini adalah pernyataan “temukan passionmu”. Passion, hal klise yang hampir selalu saya lontarkan saat interview kerja, tapi jujur saya nggak begitu paham apa sih makhluk passion ini.
Apakah pekerjaan saya pada saat itu sudah sesuai dengan passion? pertanyaan ini ngeganjel setiap menjalani hari-hari sebagai network engineer.
Kaya gimana sih kerja sebagai network engineer? profesi sebagai network engineer banyak banget percabangannya. Ada yang fokus di network infrastructure, network security, data center, sampai ke cloud infrastructure. Saat itu saya ada di posisi sebagai network security engineer. Kerjaannya kurang lebih implementasi perangkat network security, misalnya firewall, IPS, dsb di client.
Selain kerja lembur bagai kuda, perusahaan juga ngasih fasilitas buat para engineer untuk training dan sertifikasi. Dengan segala fasilitas dan jenjang karir yang (bisa jadi) cemerlang, tahun 2019 menjadi akhir (mungkin?) dari perjalanan karir saya sebagai network engineer, saya pamit resign. Rasanya kerjaan ini belum “gue banget”.
Jadi apa dong passion nya??? sabar, saya cerita dulu lanjutannya biar keliatan benang merahnya.
Yang pasti sebelum resign saya sudah ada planning. Yes, banting setir atau career change. Saya semakin terpapar dengan konten per-karir-an, salah satunya podcast Thirty Days of Lunch yang temanya Restart Career. Salah satu narasumber di podcast itu berhasil banting setir dari non-IT job ke Data Scientist, wow. Kok bisa sih? Singkatnya, menurut pembicaraan di podcast ini salah satu cara cepat dan efektif untuk restart career di dunia IT (terutama software engineering) adalah ikutan bootcamp.
Saya mulai research tentang bootcamp tersebut. Biasanya bootcamp ngoding ini berlangsung kurang lebih 6 bulan. Setelah lulus bootcamp, dari yang mungkin sama sekali belum pernah ngoding, minimal di-hire oleh tech company sebagai junior programmer. Tapi, pasti ada biayanya dong dan yang pasti nggak murah.
Apakah dengan digembleng selama 6 bulan cukup untuk sustain di industri? Balik lagi ke masing-masing individu. Di dunia IT khususnya software engineering, kita harus ngikutin perkembangan yang pesat. Skill yang kita punya saat ini, 5 atau bahkan 1 tahun kedepan belum tentu masih relevan.
Ada nggak sih cara lain selain ikut bootcamp?
Ternyata, kurikulum yang ditawarkan bootcamp-bootcamp tersebut, hampir semua materi bertebaran di internet. Dan gratis. Pencarian dan peng-gemblengan pun dimulai.
To be continued…