Banting Setir πŸš‚ (part 2)

Setelah sekian lama tidak posting tulisan, akhirnya pecah telur juga. Sebenarnya sudah banyak unek-unek yang ingin ditumpahkan. Tapi mau bagaimana lagi, sehari-hari selalu dihabiskan untuk menulis β€œrapor”.

Ada hutang yang rasanya perlu saya bayar. Ya, tulisan banting setir masih menggantung alias belum saya ceritakan kelanjutkannya seperti apa. Paling enak sih sambil ngopi ya. Yuk seduh kopinya dulu, siapkan gorengan, untuk para ahli hisap silahkan disiapkan udud-nya (yuk bisa yuk berhenti…).

Kita flashback sedikit ke tulisan banting setir sebelumnya. Singkat cerita, setelah sebelumnya bekerja di bidang network engineering kemudian saya memutuskan pindah haluan ke software engineering. Tentu keputusan ini bukan datang tiba-tiba dari langit. Cukup lama sampai keputusan ini final dan tidak lupa konsultasi sana sini. Biasanya semakin tua matang usia kita lebih paham apa yang dibutuhkan vs apa yang diinginkan. Lebih realistis saat menentukan pilihan dan membuat keputusan yang dampaknya besar.

Sebelum menentukan, bagaimana caranya untuk bisa yakin?

Ada faktor X nya dong pasti. Programmer masih lumayan banyak dicari, karena digitalisasi sedang berlangsung di berbagai sektor industri. Pastinya banyak kebutuhan membuat software untuk mendukung transformasi ini. Atau bahkan perusahaan yang memang bisnis utama nya bergantung dengan software.

Selain masih banyak dicari, yang pasti karena memungkinkan untuk bekerja jarak jauh atau remote. Last but not least, gaji. Bukan hanya Indonesia, bahkan peluang terbuka lebar di seluruh dunia. Tinggal kita nya saja yang mau mencari jalan atau tidak.

Tapi, yang paling penting sebenarnya kemauan belajar dan ngulik. Siapa saja bisa, yang penting mau belajar dan ngulik.

Dari faktor-faktor itu, menurut saya masih oke untuk alih profesi ke programmer.

Selain belajar dan ngulik, apa yang dibutuhkan saat melamar untuk pertama kalinya? Kita belum punya pengalaman profesional sebagai programmer, terus apa yang bisa kita tulis di CV?

Kita bisa menunjukkan portfolio sebagai bukti bahwa kita punya kapabilitas untuk membuat software. Biasanya akan menjadi nilai tambah jika kita paham arsitekturnya dan alasan pemilihan tool, framework, bahasa, dan lain-lain. Ini bisa menunjukkan bahwa kita memang paham dengan apa yang dibuat.

Alhamdulillah, jadi cerintanya saya mendapat kesempatan pertama sebagai web developer di sebuah perusahaan pengembang software yang berlokasi di Bandung. Dan salah satu yang membuat saya tertarik, software yang dikembangkan adalah LMS. Banyak hal yang bisa dieksplorasi pada LMS, baik frontend dan backend.

Setelah berkecimpung selama kurang lebih satu tahun, saya mendapat kesempatan untuk masuk ke perusahaan yang skalanya lebih besar. Masih di sektor pendidikan, salah satu perusahaan edutech di Indonesia. Dan InsyaAllah perjalanan masih berlanjut.

Dari perjalanan banting setir ini, poin pentingnya adalah tetap belajar. Pendidikan formal, non-formal, otodidak sekalipun tidak masalah. Karena sejatinya jika terus belajar, semakin banyak hal yang belum kita ketahui.